Dalam
Buku Han Akhir (
Hou Han Shu) yang merupakan salah satu dari buku sejarah resmi Cina (
Sejarah Dua Puluh Empat Dinasti) dikisahkan tentang sebuah
air terjun di sungai
Sungai Kuning yang alirannya deras. Ikan-ikan berusaha keras memanjat air terjun, namun hanya
koi yang berhasil memanjat air terjun dan berubah menjadi
naga. Oleh karena itu, koi yang berhasil menaiki air terjun dijadikan simbol kesuksesan dalam hidup.
Tradisi pengibaran koinobori di halaman rumah dimulai oleh kalangan
samurai pada pertengahan
zaman Edo. Mereka memiliki tradisi merayakan Tango no Sekku dengan memajang peralatan
bela diri, seperti
yoroi,
kabuto, dan
boneka samurai. Selain itu, mereka membuat koinobori dari kertas, kain, atau kain bekas yang dijahit dan digambari ikan
koi. Koinobori dibuat agar bisa berkibar dan menggelembung bila tertiup angin.
Pada awalnya, orang Jepang hanya mengibarkan koinobori berwarna hitam yang disebut
magoi (
真鯉).
Koi yang dikibarkan paling atas melambangkan putra sulung dalam
keluarga. Sebagai hiasan yang dibuat untuk meramaikan perayaan,
koinobori warna lain juga berangsur-angsur mulai dibuat, dan semuanya
melambangkan anak laki-laki dalam keluarga. Sejak
zaman Meiji, koinobori berwarna merah yang disebut
higoi (
緋鯉) mulai dikibarkan untuk menemani koinobori berwarna hitam. Tradisi pengibaran koinobori biru dimulai sejak
zaman Showa. Ukuran koinobori biru (
kogoi, 子鯉) lebih kecil dari koinobori merah atau hitam, dan melambangkan anak koi.
Pada zaman sekarang sering dijumpai koinobori warna
hijau dan
oranye
yang dimasudkan sebagai anak-anak koi. Di beberapa tempat di Jepang,
koinobori bukan saja milik anak laki-laki. Koinobori yang melambangkan
adanya anak
perempuan
dalam keluarga juga ingin ikut dikibarkan. Tersedianya koinobori warna
cerah seperti oranye kemungkinan ditujukan untuk keluarga yang memiliki
anak perempuan.
Pada
1931, pencipta lagu
Miyako Kondo
menulis lagu berjudul "Koinobori". Dalam lirik lagu tersebut, koinobori
yang besar dan berwarna hitam adalah bapak koi dan koinobori warna lain
yang lebih kecil adalah anak-anak koi.
[1] Konsep dari lirik lagu tersebut diterima secara luas di tengah rakyat yang sedang di bawah pemerintahan militer. Seusai
Perang Dunia II, peran
wanita
makin penting, dan koinobori warna merah dipakai untuk melambangkan ibu
koi. Satu set koinobori akhirnya secara lengkap melambangkan keluarga
yang utuh: bapak, ibu, dan putra-putrinya. Hingga kini, lagu "Koinobori"
ciptaan Miyako Kondo tetap dinyanyikan anak-anak, namun liriknya tetap
sama seperti ketika diciptakan pada tahun 1931.
Berkibarnya koinobori sudah menjadi pemandangan langka di kota-kota besar di Jepang. Makin sedikitnya
keluarga
di Jepang yang memiliki anak kecil mungkin menjadi penyebabnya. Selain
itu, penduduk kota besar tidak lagi tinggal di kompleks perumahan,
melainkan di
apartemen (
mansion) yang tidak memiliki halaman untuk mengibarkan koinobori.
Koinobori (
こいのぼり, 鯉のぼり, atau 鯉幟 bendera koi) adalah
bendera berbentuk ikan
koi yang dikibarkan di rumah-rumah di
Jepang oleh orang tua yang memiliki anak
laki-laki. Pengibaran koinobori dilakukan untuk menyambut perayaan
Tango no Sekku.
Menurut penanggalan
Imlek, Tango no Sekku jatuh pada tanggal 5 bulan 5 ketika
Asia Timur sedang
musim hujan.
Orang tua yang memiliki anak laki-laki mengibarkan koinobori hingga
hari Tango no Sekku untuk mendoakan agar anak laki-lakinya menjadi orang
dewasa yang sukses. Setelah Jepang memakai
kalender Gregorian, koinobori dikibarkan hingga
Hari Anak-anak (
5 Mei).
Koinobori yang tertiup angin telah menjadi simbol perayaan Hari
Anak-anak. Kalau zaman dulu koinobori berkibar di tengah musim hujan,
koinobori biasanya sekarang mengingatkan orang Jepang tentang langit
biru yang cerah di akhir
musim semi.
Satu set koinobori terdiri dari
ryūdama,
yaguruma,
fukinagashi, dan bendera-bendera ikan koi.
- Bola yang bisa berputar dipasang di ujung paling atas tiang tempat mengibarkan koinobori.
- Roda berjari-jari anak panah yang dipasang di bawah ryūdama. Ryūdama dan yaguruma dipercaya sebagai pengusir arwah jahat.
- Sarung angin berhiaskan panji-panji lima warna (biru, merah, kuning, putih, dan hitam) atau gambar ikan koi. Fukinagashi melambangkan 5 unsur (kayu, api, air, tanah, dan logam), dan dipercaya sebagai penangkal segala penyakit.
- Koinobori berwarna hitam yang melambangkan ayah dikibarkan di bawah fukinagashi.
- Koinobori merah (higoi) dan koinobori warna lainnya
- Koinobori lain yang berukuran lebih kecil dikibarkan di bawah koinobori merah. Pada zaman sekarang, koinobori merah melambangkan ibu, koinobori biru melambangkan putra sulung, dan koinobori hijau melambangkan putra kedua.