Saturday, May 10, 2014

すいせんの ひつよう


私は 友だちや 家族が ほめられたとき、うれしいです。 皆さんも ほめられた ことが ある でしょう。 どうして にんげんが すいせんが いると 思いますか。
これから 推薦の ひつようの りゅうの について 話したいと 思って います。
1.がんばるように すいせんの ひつようです。
                だれかに 自分の のうりょくを ほめられば、もっと がんばるように なることが できると 思います。 子供のとき 母に 私が 書いた えを みせました。 母に   ほめられました。 それから 毎日 え を 書きました。
. あきらめないように すいせんの ひつようです。
                しっぱいしたとき、 すいせんで、 もっと がんばるように なる ことが    できると 思います。 自分の つくった にんげんの おりがみを みせたとき、 友だちは 「あまり よくないですね。」 と 言いました。 それは じょうだんだと 言う  ことが わかりましたが、 がっかりして しまいました。 でも、 あねは 「いいね。 もっと がんばってね。」 と 言いました。 そこで うれしくて、 あきらめないで  もっと がんばりました。
3.じはくされるように すいせんの ひつようです。
                にんげんは いつも じはくされるのが ほしいと 思います。 ある日 私の 先生は 私の 友だちに 「次の テストで Aを とるために がんばってね。」 と    言いました。 それから わたしに 「アニサさんも Bを とるために がんばってね。」 と 言いました。 私は びっくりしました。 私は 「え? どうして B ですか。   私なら Aを とらないと 言う 意味 ですか。」 と 心の 中で 聞きました。
そこで 私は 「Aを とる ことが できるよ」 と 考えて、 もっと     べんきょうするように なって きました。 その おかげで 今 私は ここに います。     ゆうしょう できるか どうか わかりませんが、 いっしょうけんめい がんばります。  先生、 ありがとう ございました。

ほめてくれたら もちろん 気持ちが よく なりました。 それだけ でわ    ありません。 ほめた 人は 私が これから もっと よくに なる ことが できる と 言う きぼうが あります。
皆さんも 同じ だと おもいます。 ほめられるか どうか もんだい でわ   ありません。 だいじな ことは じしんを もっと がんばる こと です。 
でわ がんばりましょう。

Tuesday, May 6, 2014

こいのぼり KOINOBORI

Dalam Buku Han Akhir (Hou Han Shu) yang merupakan salah satu dari buku sejarah resmi Cina (Sejarah Dua Puluh Empat Dinasti) dikisahkan tentang sebuah air terjun di sungai Sungai Kuning yang alirannya deras. Ikan-ikan berusaha keras memanjat air terjun, namun hanya koi yang berhasil memanjat air terjun dan berubah menjadi naga. Oleh karena itu, koi yang berhasil menaiki air terjun dijadikan simbol kesuksesan dalam hidup.
Tradisi pengibaran koinobori di halaman rumah dimulai oleh kalangan samurai pada pertengahan zaman Edo. Mereka memiliki tradisi merayakan Tango no Sekku dengan memajang peralatan bela diri, seperti yoroi, kabuto, dan boneka samurai. Selain itu, mereka membuat koinobori dari kertas, kain, atau kain bekas yang dijahit dan digambari ikan koi. Koinobori dibuat agar bisa berkibar dan menggelembung bila tertiup angin.
Pada awalnya, orang Jepang hanya mengibarkan koinobori berwarna hitam yang disebut magoi (真鯉). Koi yang dikibarkan paling atas melambangkan putra sulung dalam keluarga. Sebagai hiasan yang dibuat untuk meramaikan perayaan, koinobori warna lain juga berangsur-angsur mulai dibuat, dan semuanya melambangkan anak laki-laki dalam keluarga. Sejak zaman Meiji, koinobori berwarna merah yang disebut higoi (緋鯉) mulai dikibarkan untuk menemani koinobori berwarna hitam. Tradisi pengibaran koinobori biru dimulai sejak zaman Showa. Ukuran koinobori biru (kogoi, 子鯉) lebih kecil dari koinobori merah atau hitam, dan melambangkan anak koi.
Pada zaman sekarang sering dijumpai koinobori warna hijau dan oranye yang dimasudkan sebagai anak-anak koi. Di beberapa tempat di Jepang, koinobori bukan saja milik anak laki-laki. Koinobori yang melambangkan adanya anak perempuan dalam keluarga juga ingin ikut dikibarkan. Tersedianya koinobori warna cerah seperti oranye kemungkinan ditujukan untuk keluarga yang memiliki anak perempuan.
Pada 1931, pencipta lagu Miyako Kondo menulis lagu berjudul "Koinobori". Dalam lirik lagu tersebut, koinobori yang besar dan berwarna hitam adalah bapak koi dan koinobori warna lain yang lebih kecil adalah anak-anak koi.[1] Konsep dari lirik lagu tersebut diterima secara luas di tengah rakyat yang sedang di bawah pemerintahan militer. Seusai Perang Dunia II, peran wanita makin penting, dan koinobori warna merah dipakai untuk melambangkan ibu koi. Satu set koinobori akhirnya secara lengkap melambangkan keluarga yang utuh: bapak, ibu, dan putra-putrinya. Hingga kini, lagu "Koinobori" ciptaan Miyako Kondo tetap dinyanyikan anak-anak, namun liriknya tetap sama seperti ketika diciptakan pada tahun 1931.

Berkibarnya koinobori sudah menjadi pemandangan langka di kota-kota besar di Jepang. Makin sedikitnya keluarga di Jepang yang memiliki anak kecil mungkin menjadi penyebabnya. Selain itu, penduduk kota besar tidak lagi tinggal di kompleks perumahan, melainkan di apartemen (mansion) yang tidak memiliki halaman untuk mengibarkan koinobori.

Koinobori (こいのぼり, 鯉のぼり, atau 鯉幟 bendera koi) adalah bendera berbentuk ikan koi yang dikibarkan di rumah-rumah di Jepang oleh orang tua yang memiliki anak laki-laki. Pengibaran koinobori dilakukan untuk menyambut perayaan Tango no Sekku.
Menurut penanggalan Imlek, Tango no Sekku jatuh pada tanggal 5 bulan 5 ketika Asia Timur sedang musim hujan. Orang tua yang memiliki anak laki-laki mengibarkan koinobori hingga hari Tango no Sekku untuk mendoakan agar anak laki-lakinya menjadi orang dewasa yang sukses. Setelah Jepang memakai kalender Gregorian, koinobori dikibarkan hingga Hari Anak-anak (5 Mei). Koinobori yang tertiup angin telah menjadi simbol perayaan Hari Anak-anak. Kalau zaman dulu koinobori berkibar di tengah musim hujan, koinobori biasanya sekarang mengingatkan orang Jepang tentang langit biru yang cerah di akhir musim semi.
Satu set koinobori terdiri dari ryūdama, yaguruma, fukinagashi, dan bendera-bendera ikan koi.
  • Ryūdama (bola naga)
Bola yang bisa berputar dipasang di ujung paling atas tiang tempat mengibarkan koinobori.
  • Yaguruma
Roda berjari-jari anak panah yang dipasang di bawah ryūdama. Ryūdama dan yaguruma dipercaya sebagai pengusir arwah jahat.
  • Fukiganashi
Sarung angin berhiaskan panji-panji lima warna (biru, merah, kuning, putih, dan hitam) atau gambar ikan koi. Fukinagashi melambangkan 5 unsur (kayu, api, air, tanah, dan logam), dan dipercaya sebagai penangkal segala penyakit.
  • Koinobori hitam (magoi)
Koinobori berwarna hitam yang melambangkan ayah dikibarkan di bawah fukinagashi.
  • Koinobori merah (higoi) dan koinobori warna lainnya
Koinobori lain yang berukuran lebih kecil dikibarkan di bawah koinobori merah. Pada zaman sekarang, koinobori merah melambangkan ibu, koinobori biru melambangkan putra sulung, dan koinobori hijau melambangkan putra kedua.

ゆかた YUKATA

Istilah yukata berasal dari kata yukatabira (浴衣帷子). Mulanya katabira dipakai untuk menyebut sehelai kimono dari kain rami. Walaupun tidak lagi dibuat dari kain rami, pakaian seperti itu tetap disebut katabiraKimono kain rami dipakai sebagai pakaian sewaktu mandi berendam, namun akhirnya berubah fungsi sebagai pakaian sesudah mandi. Ketika rumah-rumah di Jepang belum memiliki kamar mandi, yukata dipakai orang untuk pergi ke pemandian umum.
Dalam kamus Wamyō Ruijushō dari pertengahan zaman Heian, yukatabira (湯帷子) dijelaskan sebagai pakaian yang dikenakan sewaktu mandi berendam. Ketika itu, orang mandi sambil memakai yukatabira di pemandian umum, dan dipakai untuk mengelap keringat, sekaligus menutupi ketelanjangan dari orang lain. Bahan yukatabira adalah kain rami yang cepat kering kalau diperas.
Sejak sekitar zaman Azuchi-Momoyama, yukatabira dipakai orang sebagai pakaian sesudah mandi, untuk menyerap basah seusai mandi. Kalangan rakyat zaman Edo sangat menyenangi yukatabira hingga disingkat sebagai yukata. Ketika itu, yukata bukanlah pakaian sopan yang dipakai untuk bertemu dengan orang lain, melainkan hanya pakaian tidur.
Berbeda dari kimono jenis lainnya, menjahit yukata sangat mudah. Yukata memiliki pola yang sangat sederhana, dan dijahit tanpa kain pelapis di bagian pinggul atau pundak. Hingga seusai Perang Dunia II, cara menjahit yukata diajarkan kepada murid perempuan sekolah menengah umum di Jepang.

Yukata (浴衣, baju sesudah mandi) adalah jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam berendam dengan air panas.
Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (ennichi), atau menari pada perayaan obon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah.
Gerakan dasar yang harus dikuasai dalam nihon buyo selalu berkaitan dengan kimono. Ketika berlatih tari, penari mengenakan yukata sebagai pengganti kimono agar kimono berharga mahal tidak rusak karena keringat. Aktor kabuki mengenakan yukata ketika berdandan atau memerankan tokoh yang memakai yukata. Pegulat sumo memakai yukata sebelum dan sesudah bertanding.

Musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri di Jepang. Jika terlihat orang memakai yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu ada matsuri atau pesta kembang api.

Bahan yukata pria umumnya berwarna dasar gelap (hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis warna gelap. Wanita biasanya mengenakan yukata dari bahan berwarna dasar cerah atau warna pastel dengan corak aneka warna yang terang.
Walaupun umumnya dibuat dari kain katun, yukata zaman sekarang juga dibuat dari tekstil campuran, seperti katun bercampur poliester. Berbeda dengan kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang menjualnya, yukata siap pakai dalam berbagai ukuran dijual toko dengan harga terjangkau.
Corak kain yang populer untuk yukata wanita, misalnya bunga sakura, seruni, poppy, bunga-bunga musim panas. atau ikan mas koki. Karakter anime seperti Hamtaro, Pokemon, dan Hello Kitty populer sebagai corak yukata untuk anak-anak.

TOKYO SKYTREE

Tokyo Skytree, menjadi ikon wisata baru di Tokyo yang diakui oleh Guiness World Records sebagai menara tertinggi di dunia, merupakan menara siaran dengan ketinggian 634 meter, telah dibuka untuk umum di Jepang.

Walaupun Tokyo Skytree berhasil menjadi menara tertinggi di dunia, namun bangunan paling tinggi di planet ini masih dipegang oleh Khalifa Burj di Dubai, yang menjulang dengan ketinggian 828 meter.

BBC menulis, Tokyo Skytree yang juga dua kali lipat lebih tinggi dari Menara Eiffel di Paris menawarkan jasa penyiaran di daerah Tokyo. Dan stasiun televise NHK akan mulai menggunakannya untuk transmisi.

Dek observasi pertama dari Tokyo Skytree ini dapat menampung hingga 2.000 orang, dan dek observasi kedua mampu sampai 900 orang menurut laporan setempat.

Diketahui, menara ini mampu bertahan dari kerusakan akibat gempa bumiyang melanda Jpang pada Maret 2011 lalu, selama masa konstruksinya. Menara ini sekarang dipandang sebagai bukti nyata teknologi bangunan Jepang yang tahan terhadap gempa, serta sebagai simbol ketahanan.

Harga tiket untuk naik hingga dek pertama, untuk usia dewasa 2.000 Yen (sekira Rp 236.000), untuk pelajar 1.500 Yen (sekira Rp 177.000), untuk anak-anak 900 Yen (sekira 106.000) dan untuk usia prasekolah 600 Yen (sekira Rp 70.000)



Jika ingin naik ke dek tertinggi, maka harus membeli tiket lagi. Untuk dewasa 1000 Yen, untuk pelajar 800 Yen, untuk anak-anak 500 Yen dan untuk prasekolah 300 Yen.